Press "Enter" to skip to content

Sejarah Perkembangan dan Pengenalan Dasar Basis Data

Jika anda coba search di situs lowongan pekerjaan dengan kata kunci “data” atau “database,” saya bisa bilang rata-rata gaji yang ditawarkan tidaklah mengecewakan, beberapa perusahaan small to mid-size memberikan gaji hingga Rp. 14 juta untuk pekerjaan senior database administrator (yang seharusnya lebih), beberapa pekerjaan lain seperti data engineer, data analyst, atau data scientist sepertinya tidak perlu negosiasi yang alot untuk mendapatkan gaji minimal Rp. 10 jutaan (saat artikel ini ditulis). Kenapa perusahaan berani membayar gaji yang relatif tidak mengecewakan untuk pekerjaan yang berhubungan dengan data?

Dua dekade belakangan ini seiring dengan meningkatnya pengguna perangkat mobile (tentu saja smakin drastis setelah iPhone muncul di pasar perangkat mobile) dan membaiknya infrastruktur jaringan internet, untuk pertama kalinya sepanjang sejarah peradaban manusia, generasi sekarang tidak lagi dipusingkan dengan permasalahan klasik generasi-generasi sebelumnya, yaitu transfer ataupun pertukaran data/informasi.

Kita tidak lagi menggunakan utusan/kurir yang menggunakan kuda atau unta, tidak juga merpati pos, bahkan pengguna telegram sudah sangat langka. Kita sudah memiliki jaringan komputer antar benua yang saling terhubung, yaitu internet.

Tentu di level teknis masih cukup memusingkan, namun permasalahan transport data relatif terselesaikan. Saat ini rata-rata transfer data di banyak negara sangat cepat, jumlah data yang bisa didapat melimpah ruah, namun kebanyakan dari data tersebut tidak sekonyong-konyong bermanfaat bagi perusahaan, data harus diolah terlebih dahulu agar menjadi informasi berharga yang mendatangkan keuntungan berlipat-lipat bagi perusahaan.

Disinilah para kuli-data beraksi, namun para kuli-data hanyalah manusia, memiliki keterbatasan, jika pengolahan data (dari data yang tersedia saat ini) seluruhnya dibebankan kepada manusia saja maka hampir dipastikan, hasil yang didapat dari pengolahan data hanya akan cukup menutupi upah para pekerja, yang artinya perusahaan bahkan dapat merugi dari aktifitas yang konyol itu, oleh karena itu kita membutuhkan sesuatu yang bisa diandalkan untuk melakukan pekerjaan ini, yaitu Database Management System (DBMS)

Database atau Basis data sendiri merupakan sekumpulan data, khususnya data yang menjabarkan aktifitas dari satu perusahaan atau lebih, yang saling berhubungan. Sebagai contoh, basis data dari sebuah kampus berisi data mengenai hal berikut:

  • Entitas, yaitu mahasiswa, fakultas, kursus, dan ruang kelas.
  • Relationship atau hubungan antar entitas, seperti penerimaan mahasiswa pada suatu kursus, fakultas yang menyediakan tenaga pengajar dan ruangan yang digunakan untuk kursus.

Sedangkan DBMS merupakan piranti lunak yang didesain untuk membantu dalam pengelolaan dan pemanfaatan sekumpulan data dalam jumlah besar. Tentu saja ada alternatif lain untuk pengolahan dan pengelolaan data selain DBMS, yaitu dengan menyimpan data kedalam file dan membuat sebuah aplikasi yang spesifik untuk mengelolanya, namun menggunakan DBMS memiliki beberapa keuntungan yang akan kita bahas nantinya, sekarang kita akan menoleh sebentar kebelakang untuk menyaksikan perkembangan DBMS dari masa ke masa.

Database Management System Dari Sudut Pandang Sejarah

Sedari masa awal komputer ditemukan, pengembangan aplikasi untuk menyimpan dan memanipulasi data sudah menjadi fokus utama. Charles Bachman, seorang engineer di General Elektrik yang pertama kali mendesain general-purpose DBMS, disebut Integrated Data Store (IDT). Sistem ini sangat mempengaruhi pengembangan sistem basis data lain pada era 60′ an dan merupakan dasar dari network data model. IDT distandarisasi pada Conference on Data System Language (CODASYL). atas jerih payah dan kontribusinya pada area basis data, Bachman dianugerahi ACM Turing Award-penghargaan serupa nobel bagi ilmuwan komputer.

Selanjutnya pada tahun 1960 IBM mengembangkan DBMS Information Management System (IMS), masih digunakan hingga saat ini bahkan pada aplikasi besar. IMS merupakan basis bagi framework interpretasi data alternatif yang disebut hierarchical data model. IMS diterapkan pada sistem SABRE, yaitu reservasi tiket pesawat online yang dikembangkan oleh IBM dan America Airlines. Beberapa pengguna sudah dapat mengakses data yang sama melalui jaringan komputer pada sistem SABRE. Hingga hari ini sistem SABRE yang sama masih digunakan oleh layanan travel berbasis web yang cukup populer.

Pada tahun 1970, Edgar Codd, yang saat itu bekerja di San Jose Research Laboratory milik IBM mengajukan sebuah framework representasi data baru yang disebut relational data model (model data relasi), buah pikir Codd ini memicu pengembangan pesat beberapa DBMS yang berdasarkan model relasi. Codd mendapat Turing Award pada tahun 1981 atas karyanya yang sangat berpengaruh pada perkembangan basis data selanjutnya. Sistem basis data pun matang sebagai disiplin akademis, popularitas relasional DBMS mengubah lahan komersil, keuntungan dari model relasi begitu menggiurkan dan penggunaan DBMS pun mulai menjadi praktik standar.

Relasional DBMS mengukuhkan posisi sebagai paradigma DBMS yang dominan pada tahun 1980-an, dan penggunaan sistem database semakin meluas. Bahasa query SQL untuk basis data relasional yang dikembangkan oleh IBM bersamaan dengan Project R pada masa ini sudah menjadi standar.

Pada akhir tahun 1980 sistem basis data berkembang pesat, riset-riset besar dilakukan dan beberapa vendor seperti IBM atau Oracle mulai melakukan penambahan pada sistem masing-masing seperti menyimpan tipe data baru semacam teks dan gambar, juga mampu melakukan query yang rumit. Namun peningkatan yang paling signifikan adalah saat DBMS memasuki era internet. Generasi awal website menyimpan data pada sistem operasi, hal ini tidak berlangsung lama karena banyak pengembang website yang segera menggunakan sistem basis data melihat banyaknya manfaat yang didapatkan.

Sistem basis data terus berkembang, hingga hari ini menjadi bagian tak terpisahkan dari aktifitas digital, dan akan terus berkembang mengingat semakin rumitnya permasalahan yang harus dipecahkan, oleh karena itu jika anda mempertimbangkan untuk mempelajari sistem basis data secara serius itu adalah keputusan yang tepat.

Kenapa menggunakan Basis Data?

Data dapat disimpan pada sistem operasi, lalu kenapa harus menggunakan sistem tersendiri untuk penyimpanan dan pengolahan data? seperti dikemukakan di awal, menyimpan data pada sistem operasi memiliki beberapa kekurangan, diantaranya:

  • tanpa sistem basis data akan banyak aplikasi yang dibuat secara terpisah untuk mengolah data, dan aplikasi pengolahan data tersebut rumit.
  • karena data yang sama akan digunakan oleh banyak pengguna, maka tanpa sistem basis data kemungkinan terjadinya inkonsistensi data sangat besar.
  • Jika pada saat perubahan data sistem mengalami crash, pengembalian data kembali akan jauh lebih gampang menggunakan sistem basis data.
  • dengan basis data, akan ada lapisan kemanan tambahan.

Basis data merupakan software yang memberikan solusi atas permasalahan pengolahan data, dengan bantuan DBMS pengelolaan data akan efisien, seiring dengan meningkatnya volum data dan banyaknya pengguna yang mengakses, maka untuk saat ini penggunaan basis data tidak terelakan lagi.

Manfaat menggunakan DBMS

Penggunaan DBMS untuk pengelolaan data memiliki banyak manfaat, yaitu:

  • independensi data: DBMS menyediakan abstraksi dari data, sehingga detail data dan penyimpanan tidak perlu dibeberkan kepada program aplikasi.
  • efisiensi: dengan menggunakan bermacam-macam teknik yang mutakhir, penyimpanan dan penarikan data akan lebih efisien, teknik ini sangat penting terlebih jika data berada di penyimpanan eksternal.
  • integritas data dan keamanan: sebagai contoh, sebelum memasukan informasi gaji karyawan, DBMS dapat memeriksa terlebih dahulu agar tidak melebihi dana yang tersedia, juga untuk keamanan, DBMS dapat memaksakan kontrol akses, berbagai kelas pengguna dapat melihat data yang berbeda.
  • administrasi data: meminimalisir redudansi data, dan dengan pemusatan administrasi data maka kinerja pengolahan data yang diakses beberapa pengguna akan semakin baik, penarikan data akan semakin cepat.
  • akses serentak dan pemulihan dari crash: Sebuah DBMS mengatur antrian akses data, data yang sama dapat diakses oleh banyak pengguna secara bersamaan, pengguna tidak menyadari hal ini. Apabila terjadi crash atau kegagalan sistem DBMS akan mengantisipasi efeknya terhadap pengguna.
  • mempercepat pengembangan program aplikasi: Banyak hal penting yang ditangani oleh DBMS, oleh karena itu hal tersebut tidak dibebankan kepada program aplikasi lagi, karena itu kerumitan akan berkurang dan pengembangan aplikasi jadi semakin cepat.

DBMS yang kita gunakan hari ini telah melewati pengembangan beberapa dekade dan merupakan salah satu aplikasi paling kompleks yang pernah dibuat, beberapa inovator dalam bidang basis data mendapat penghargaan setara nobel mengingat manfaat besar dari buah pikir mereka terhadap umat manusia. Berurusan dengan data merupakan hal yang amat serius dan melelahkan, bidang data bukan tempat untuk para pemalas, data dapat menentukan sukses tidaknya suatu bisnis bahkan negara, karena itu tidak heran banyak organisasi yang menjadikan data sebagai komoditasnya, seperti lembaga-lembaga survey, oleh karena itu wajar dan memang sudah seharusnya para pekerja yang berhubungan dengan data mendapatkan penghargaan, termasuk gaji dari belasan hingga puluhan juta.

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.