Natural

Edward Jenner Sang Bapak Vaksin

Selama berabad-abad penyakit cacar (smallpox) menjadi ancaman bagi umat manusia, namun di masa sekarang kita tidak terlalu mengkhawatirkannya karena penanganan dan pencegahan penyakit cacar telah ditemukan, untuk itu kita harus berterimakasih atas kerja keras Edward Jenner dan peneliti selanjutnya yang dengan gigih meneruskan usaha Jenner.

Dengan pesatnya pengembangan vaksin beberapa dekade terakhir, sejarah imunisasi sering terlupakan, namun semenjak tragedi WTC 11 September 2001, ancaman senjata biologi muncul kembali, cacar berpotensi besar dimanfaatkan oleh teroris sebagai senjata biologi, dengan begitu pengetahuan atas penyakit cacar termasuk sejarahnya sudah sepatutnya dipaparkan agar generasi sekarang mengerti pentingnya imunisasi.

Edward Jenner dikenal diseluruh dunia atas kontribusinya dalam memusnahkan penyakit cacar. Jenner meletakan dasar dalam imunologi meskipun Jenner sendiri bukanlah orang pertama yang melakukan eksperimen dengan cowpox (cacar sapi).

Asal-usul Cacar

Cacar dipercaya telah ada semenjak jaman pra sejarah, sekitar 10.000 tahun S.M pada masa masyarakat agrikultural pertama di timur laut Afrika, dari sana cacar menyebar hingga ke India, para pedagang Mesir kuno yang diduga membawa penyakit cacar. Pada wajah mumi yang berasal dari tahun 1570 – 1085 S.M ditemukan bekas luka yang serupa dengan cacar, pada waktu yang bersamaan dilaporkan bahwa telah ada kasus cacar pada masyarakat Cina dan India.

Masyarakat Eropa mulai mengenal cacar sekitar abad ke-5 hingga abad ke-7 dan acapkali menjadi epidemik pada abad pertengahan. Penyakit cacar merupakan penyebab awal mundurnya peradaban Roma dan bertanggung jawab atas kematian sekitar 7 juta orang. Perang salib dan penjelajahan Hindia Barat berkontribusi pada penyebaran penyakit cacar selanjutnya.

Para penjelajah Spanyol dan Portugis membawa penyakit cacar ke tempat-tempat baru yang berakibat menurunnya populasi lokal dan merupakan penyebab runtuhnya kerajaan Aztec dan Inca. Efek yang sangat menghancurkan dari penyakit cacar melahirkan ide senjata biologi, contohnya pada masa perang Perancis-Indian (1754-1767) komandan angkatan perang Inggris untuk Amerika Utara yang bernama Sir Jeffrey Amherst menganjurkan untuk menyebarkan penyakit cacar pada masyarakat Indian yang menentang Inggris, faktor lain yang menyebabkan penyebaran cacar di benua amerika adalah perdagangan budak.

Pada abad ke-18, 400 ribu orang meninggal setiap tahunnya akibat cacar di Eropa dan sepertiga dari orang yang selamat mengalami kebutaan. Simptom cacar tiba-tiba muncul dan akibatnya sangat menghancurkan. Persentase kematian berbeda-beda di tiap kota, mulai dari 20%-60%. Angka kematian pada bayi lebih tinggi, mendekati 80% di London dan 98% di Berlin.

Kata variola umum digunakan untuk penyakit cacar, diperkenalkan oleh Bishop Marius dari Avenches (Switzerland) pada tahun 570. Berasal dari kata latin varius yang bermakna “berbekas,” atau dari varus yang berarti “tanda pada kulit.” Terminologi small pockes pertama kali digunakan di Inggris untuk membedakannya dengan sipilis.

Variolasi dan Usaha Penanganan

Seseorang yang sembuh dari cacar akan memiliki kekebalan terhadapnya, hal itu telah lama diketahui. oleh karena itu sejak sekitar tahun 430 S.M orang yang selamat dari penyakit cacar biasanya menjadi perawat bagi pasien cacar.  Usaha untuk menemukan pembasmi cacar adalah perjalanan yang panjang, pada abad pertengahan, banyak ramuan herbal dan pakaian khusus digunakan untuk mencegah maupun menangani pasien cacar. Dr. Sydenham (1624-1689) menangani pasiennya mulai dari menempatkan pasien diruangan dengan jendela terbuka, menjauhkan dari api, memberikan seperai yang pendek,  hingga memberikan 12 botol kecil bir.

Namun, usaha paling berhasil memberantas cacar sebelum ditemukan vaksinasi adalah dengan inokulasi, yaitu mengambil materi segar dari bisul pasien cacar, biasanya menggunakan lanset untuk selanjutnya diberikan pada tangan atau kaki seseorang yang belum pernah terkena cacar. Istilah inokulasi dan variolasi sering digunakan bergantian. Namun inokulasi juga memiliki resiko yaitu menularkan penyakit lain seperti sipilis.

Inokulasi, yang selanjutnya disebut variolasi, telah dipraktekan oleh masyarakat Afrika, India dan Cina jauh sebelum abad ke-18. Pada tahun 1670 para pedagang Circassian memperkenalkan inokulasi kepada kesultanan Ottoman. Para wanita dari Caucasus yang terkenal cantik dan banyak menjadi selir Sultan di Istanbul telah di inokulasi dari kecil.

Variolasi diperkenalkan ke Eropa pada awal abad ke-18 oleh pendatang dari Istanbul. Pada tahun 1714 , Royal Society Of London menerima surat dari Emanuel Timoni, isi surat tersebut mendeskripsikan tehnik variolasi yang ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri. Surat serupa juga dikirim oleh Giancomo Pilarino, sayangnya pengetahuan variolasi itu tidak merubah cara pandang para ilmuwan konsevatif inggris.

Pengenalan variolasi di Inggris tidak lepas dari usaha Lady Mary Wortley Montague. Penyakit cacar telah merusak wajah dan memudarkan kecantikan aristokrat wanita inggris ini, tidak hanya itu, nyawa anaknya yang masih berusia 20 tahun pun tidak tertolong akibat cacar. Pada tahun 1717, suaminya, Edward Wortley Montague menjadi duta bagi kesultanan Ottoman, beberapa minggu setelah berada di Istanbul Lady Montague menulis surat kepada temannya mengenai metode variolasi yang dilakukan oleh Ottoman.

Lady Motague bertekad untuk mencegah kehancuran yang diakibatkan cacar hingga ia memerintahkan ahli bedah di kedutaan, Charles Maitland, untuk menginokulasi anaknya yang berusia 5 tahun, prosedur dilaksanakan pada maret 1718. Sekembalinya di London pada April 1721, Lady Montague mempersilahkan Charles Maitland menginokulasi anak perempuannya yang berusia 4 tahun di hadapan ilmuwan istana.

Dengan keberhasilan prosedur variolasi yang dilakukan oleh Charles Maitland, ia mendapatkan kesempatan dari kerajaan untuk melakukan penelitian lebih lanjut menggunakan narapidana. Para narapidana yang bersedia menjadi relawan dalam eksperimen akan mendapatkan keringanan dari raja. Ilmuwan, Anggota Royal Society juga mahasiswa menyaksikan prosedur variolasi yang dilakukan oleh Charles Maitland kepada 6 orang narapidana. Hasilnya sukses, keenam orang narapidana berhasil mendapat kekebalan terhadap cacar. Bulan berikutnya Maitland mengulangi eksperimen terhadapa anak-anak panti asuhan, juga sukses, namun yang membuat variolasi semakin diterima secara luas adalah setelah Charles Maitland berhasil menginokulasi dua orang putri dari Prince of Wales.

Eropa telah mengorganisir profesi medis dengan baik pada abad pertengahan, sehingga tidak heran prosedur variolasi dengan cepat menyebar dan mulai dilakukan secara besar-besaran. Meskipun 2%-3% orang yang mendapat variolasi meninggal atau menjadi sumber epidemik lain (seperti tuberkulosa dan sipilis), namun angka kematian 10 kali lebih rendah dibanding sebelumnya.

Pada tahun 1757, seorang anak berusia 8 tahun melakukan prosedur inokulasi, ia adalah satu dari ribuan anak yang melakukan prosedur inokulasi pada tahun itu di Inggris. Prosedur berhasil, anak tersebut mendapatkan demam ringan lalu mendapatkan kekebalan tubuh, ia adalah Edward Jenner.

Edward Jenner

Edward Jenner lahir pada 17 Mei 1749 di Berkeley, Gloucestershire, anak dari Rev. Stephen Jenner. Pada usia 5 tahun Edward yatim-piatu dan dirawat oleh abangnya. Sejak kecil Edward telah memilik ketertarikan dengan sains, pada tahun 1764 ia mulai magang dengan George Harwicke dan mendapatkan pengetahuan bedah, setelah menyelesaikan magang pada usia 21 tahun ia pergi ke London dan menjadi murid dari John Hunter yang bukan hanya ahli bedah ternama di Inggris saat itu, namun juga anatomis, biologis dan ilmuwan yang gemar bereksperimen. Persahabatan antara Jenner dan Hunter memperbesar rasa ingin tahun Jenner pada sains natural.

Selama bertahun-tahun Jenner mendengar cerita bahwa dairymaid (wanita pemerah susu sapi) secara alami kebal terhadap penyakit cacar setelah menderita cowpox (cacar sapi). Mempertimbangkan hal ini, Jenner berkesimpulan bahwa cacar sapi tidak hanya bisa digunakan untuk melawan cacar, namun juga dapat di teruskan dari seseorang kepada orang lain sebagai mekanisme perlindungan.

Pada mei 1796, Jenner bertemu dairymaid muda bernama Sarah Nelms yang memiliki luka akibat cacar sapi di tangan dan lengan, pada 14 mei 1796, Jenner melakukan prosedur inokulasi kepada anak berusia 8 tahun, James Phipps, menggunakan cairan luka dari Sarah Nelms. Setelah prosedur, James mengalami demam ringan dan kehilangan nafsu makan selama 9 hari, namun sehari kemudian keadaannya berangsur membaik. Pada Juli 1796, Jenner sekali lagi melakukan prosedur inokulasi kepada James, kali ini ia menggunakan cairan dari luka pasien cacar, dan tidak berpengaruh apa-apa terhadap James yang artinya ia telah memiliki kekebalan terhadap cacar.

Jenner mengomunikasikan temuannya kepada Royal Society dan bisa ditebak, penemuannya ditolak. Hal itu tidak menyurutkan niat Jenner untuk terus melakukan penelitian dan secara rahasia membuat sebuah booklet berjudul “An Iquiry into the Causes and Effects of the Variolae Vaccinae, a disease discovered in some of the western counties of England, particularly Gloucestershire and Known by the name of Cow Pox.” kata latin untuk sapi adalah vacca, dan cacar sapi adalah vaccinia, Janner memutuskan untuk menamakan prosedur baru ini vaccination (vaksinasi).

Di London vaksinasi dipopulerkan oleh Henry Cline, seorang dokter bedah. Selanjutnya Drs. George Pearson dan William Woodville mulai menyarankan vaksinasi kepada pasiennya. Untuk mendukung vaksinasi, Jenner mengadakan survey nasional, hasil dari survey mendukung teori Jenner. Meskipun menjadi kontroversi namun penggunaan vaksinasi menyebar cepat di Inggris dan pada tahun 1800-an telah menyebar ke negara-negara Eropa.

Dr. John Haygarth mendapatkan vaksin dari Jenner lalu mengirimkannya sedikit kepada Benjamin Waterhouse, seorang profesor di universitas Harvard. Waterhouse memperkenalkan vaksinasi di New England dan membujuk Thomas Jefferson untuk mencobanya di Virginia. Waterhouse mendapat dukungan penuh dari Jefferson dan menunjuknya sebagai agen vaksin di National Vaccine Institute, sebuah organisasi yang dibuat untuk mengimplementasikan program vaksinasi nasional di Amerika.

Meskipun mendapatkan banyak penghargaan dan popularitas, Jenner tidak berniat untuk memperkaya diri dari penemuannya. Kegigihannya untuk menemukan vaksin telah mengorbankan kehidupan pribadinya, oleh karena itu untuk menghargai jasanya maka manfaat luar biasa dari vaksin diakui dihadapan khalayak pada tahun 1802 saat parlemen inggris menghadiahkan 10, 000 poundsterling kepada Jenner, lalu 20, 000 poundsterling lagi lima tahun kemudian. Meskipun begitu, selain mendapat penghargaan, Jenner juga mendapat serangan dari beberapa kelompok anti-vaksin yang menggunakan alasan keagamaan hingga alasan medis yang sama sekali tidak mampu menjegal langkah Jenner untuk meneruskan vaksinasi. Perlahan, vaksinasi menggantikan variolasi, dan pada 1840 Inggris melarang variolasi.

Jenner bukanlah penemu vaksinasi, namun ia adalah orang pertama yang membahas prosedur dan melakukan penelitian secara ilmiah. Sebelumnya, diketahui ada Bejamin Jesty sebagai orang yang pernah menggunakan vaksin untuk melawan cacar. Jesty mengambil materi dari pentil ternak yang menderita cacar sapi dan mentransfer materi tersebut menggunakan lanset ke tangan anak dan istrinya, mereka bebas dari penyakit cacar, namun Jesty bukan orang pertama dan terakhir yang bereksperimen dengan vaksinasi. Faktanya penggunaan materi cacar dan cacar sapi sudah dikenal luas oleh ilmuwan di kota-kota penghasil susu, tapi fakta ini tidak menghilangkan pencapaian Jenner. Usahanya yang tak kenal lelah dan pengorbanannya untuk meneliti vaksinasi merevolusi cara pengobatan.

Perkembangan pesat ilmu pengetahuan dua abad belakangan membuktikan bahwa apa yang dilakukan Jenner terhadap James Phipps pada eksperimen awal merupakan hal yang benar. Teori, penemuan dan studi virus, juga pemahaman imunologi modern cenderung mendukung kesimpulan Jenner. Penemuan dan pengenalan vaksinasi membantu memusnahkan penyakit cacar, inilah argumentasi yang membela Edward Jenner dan penemuannya, juga sebagai hal untuk mengingatkan jasa-jasa Jenner pada umat manusia.

One thought on “Edward Jenner Sang Bapak Vaksin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.