Sains

Apakah Vaksinasi Bertentangan Dengan Agama?

Vaksinasi dianggap sebagai salah satu pencapaian terbesar dalam sejarah kesehatan masyarakat di abad ke-20, yang telah menyelamatkan jutaan nyawa anak-anak diseluruh dunia (terimakasih atas kontribusi Edward Jenner). Namun memasuki abad ke-21 para pediatrik didunia barat menyaksikan penolakan terhadap vaksin. Para dokter anak, ahli penyakit menular dan kesehatan masyarakat bertanya-tanya bagaimana mungkin vaksin menjadi prosedur medis yang menakutkan bagi orangtua diseluruh dunia? bahkan di suatu negara, ada orangtua yang menempuh jalur hukum agar anaknya terbebas dari vaksinasi, alasan paling umum yang dijumpai untuk menghindari vaksinasi adalah alasan medis, yang diikuti dengan keagamaan, sosial dan filosofi.

2013 dan 2015 ditandai dengan wabah penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin seperti measle dan pertussi. Peristiwa itu memicu debat diseluruh dunia yang berhubungan dengan vaksinasi, pengecualian hukum dan konsekuensinya.

Agama sangat mempengaruhi keputusan, dan alasan keagamaan sering digunakan para orangtua agar anak mereka dapat terbebas dari vaksin, beberapa penelitian menunjukan bahwa terjadi peningkatan penolakan vaksin dengan alasan keagamaan, yang berujung pada penyebaran penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin, seperti wabah mumps pada Protestan ortodoks di Belanda.

Apakah agama benar-benar melarang vaksinasi? ataukah agama dijadikan alasan bagi orangtua agar anaknya bebas dari vaksin?

Perspektif Katolik

Isu moral yang paling sering dipertanyakan sehubungan dengan vaksin dalam Katolik adalah penggunaan cell line berasal dari janin yang digugurkan secara sukarela. The Moral Reflections On Vaccines yang dipublikasikan oleh Pontifical Academy for Life menyarankan vaksin sejenis seharusnya dihindari dan diupayakan mencari alternatif lain. Contoh dari vaksin jenis ini adalah cell line WI-38 (Winstar Institute 38) dan MRC-5 (Medical Research council 5), beberapa jenis vaksin rubella (Meruvax, Rudivax, M-R-VAX), dan vaksin hepatitis (A-VAQTA dan HAVRIX), cacar ayam (Varivax), penyakit cacar (AC AM 1000), dan poliomyelitis (Polivax), jika memang tidak ada alternatif lain, menggunakan vaksin yang saat ini tersedia secara moral diperbolehkan untuk mencegah resiko serius bagi anak serta seluruh populasi. Dokumen tersebut juga menyarankan untuk tidak berpartisipasi dalam prosedur medis serupa, atau berusaha mencari alternatif lain.

Selain dokumen ini, Catholic Church’s Magisterium mendiskusikan isu bioetika mengenai sumber terlarang dari materi biologis manusia lebih lanjut dalam dua dokumen. Dignitas personae, membicarakan mengenai asal-usul illegal dari materi biologis manusia, pendasaran opini pada martabat seseorang, menekankan dalam dokukem Donum vitae dan Evangelium vitae. Pada kasus dimana sumber vaksin yang secara etis diterima tidak tersedia, maka diperbolehkan untuk menggunakan vaksin yang secara moral tidak dianjurkan. The Cathecism of the Catholic Church tidak membahas topik vaksin secara langsung, namun secara tidak langsung ada beberapa kanon yang dapat digunakan untuk permasalahan vaksin.

Pemikiran Ortodoks

Salah satu negara dengan penganut ortodoks terbesar adalah Rusia dan The Rusian Orthodox Church mengakui bahwa vaksinasi merupakan salah satu cara terbaik untuk mencegah ataupun mengatasi epidemi, namun tetap saja sekitar 3% – 5 % dari populasi penduduk Rusia masih menolak vaksinasi.

Salah satu penolakan yang nyata terhadap vaksin di Rusia dapat ditelusuri dari sebuah artikel pada tahun 1988 yang berjudul “Well, You Will Think, That It Is Only a Prick?,” penulis artikel mengklaim bahwa vaksinasi dapat mengakibatkan penyakit komplikasi yang berbahaya. Saat ini yang menjadi pengeras-suara kelompok anti vaksin adalah internet, dengan bertambahnya pendukung, kelompok ini mulai memproduksi video dan merambah rumah ibadah untuk menyebarkan informasi yang berladaskan penelitian ilmiah yang tidak akurat.

Hal ini yang menyebabkan Russian Church mengeluarkan informasi resmi sehubungan dengan vaksinasi yang menyatakan bahwa: “Vaksinasi merupakan salah satu cara terbaik untuk mencegah penyakit menular, yang beberapa diantara penyakit tersebut sangat mematikan. Pada beberapa kasus, inokulasi memang dapat mengakibatkan komplikasi, namun hal itu berhubungan dengan inokulasi yang melanggar aturan vaksinasi, seperti penggunaannya pada anak-anak yang lemah.” Russian Orthodox Church mengutuk promosi anti-vaksin dan melarang peredaran materi promo seperti bacaan, maupun audio-video di semua rumah ibadah mereka.

Posisi para dokter dan filsuf ortodoks sangat jelas menganjurkan vaksinasi, namun dengan beberapa tambahan yang harus diperhatikan, yaitu masyarakat Rusia memperlihatkan kekhawatiran sehubungan dengan beberapa vaksin yang terbuat dari sel diploit yang berasal dari embrio/janin yang digugurkan, seperti vaksin Rubella, hepatitis A dan Chicken Pox.

Ada beberapa vaksin alternatif (atau vaksin yang etis),  yaitu vaksin untuk Rubella yang terbuat dari sel kelinci atau vaksin untuk hepatitis A yang terbuat dari sel kera yang dikembangkan oleh para ilmuwan Jepang, namun vaksin tersebut baru dalam tahap awal pengembangan, selain itu juga belum banyak tersedia, sehingga vaksin dari sel diploid masih digunakan untuk memberantas penyakit rubella dan hepatitis.

Sudut Pandang Protestan

Dalam protestanisme, ada berbagai macam golongan tanpa sosok pemimpin sentral seperti Paus dalam gereja Katolik. Protestanisme menekankan kebebasan individu dan memberikan hak kepada orangtua untuk menentukan apakah mereka mau memberikan vaksin terhadap anaknya ataupun tidak. Menurut Ruijs WL, para orangtua dari protestan ortodok yang menolak vaksin beralasan bahwa vaksinasi merupakan perbuatan campur tangan atas takdir Tuhan. Sebaliknya, orangtua yang setuju dengan vaksinasi (dari kelompok yang sama) justru meyakini bahwa vaksin merupakan karunia dari Tuhan. Rujis juga menemukan pemimpin kelompok relijius memiliki pandangan yang berbeda terhadap vaksin, ada beberapa pemimpin yang tidak mempermasalahkannya dan memberikan sepenuhnya keputusan kepada orangtua namun ada juga yang memiliki konotasi negatif terhadap vaksin dan menghubung-hubungkannya dengan keagamaan.

Pendirian Yahudi

Dalam hal kelahiran, pernikahan dan kematian undang-undang Israel dipengaruhi oleh agama, dan agama jelas tidak secara eksplisit berbicara mengenai pengobatan modern, namun metode untuk menjaga kesehatan, khususnya kebersihan sudah dikenal sejak lama. Menurut keyakinan Yahudi, saat Tuhan memerintahkan manusia untuk “subur dan berkembang,” Tuhan menyerahkan sepenuhnya kepada manusia cara untuk mewujudkannya, jelas manusia tidak dapat subur dan berkembang tanpa kesehatan, karenanya manusia harus menggunakan akalnya untuk menjaga kesehatannya, vaksinasi merupakan praktek yang dikembangkan dari akal dan pikiran guna mempertahankan keturunan dari ancaman kemusnahan, vaksin dipertimbangkan dalam memaknai Pikuakh-nefesh, yaitu perbuatan untuk menyelamatkan jiwa, atau perlindungan terhadap anak dan lingkungan.

Orthodox Union, Sebuah organisasi keagamaan Yahudi mendesak semua orangtua untuk memberikan vaksin kepada anaknya sesuai jadwal yang diberikan oleh dokter anak.

Meskipun hukum Israel tidak mewajibkan vaksin, pemerintah memiliki cara lain untuk mendesak para orangtua, yaitu dengan memutus tunjangan anak kepada orangtua yang belum memberikan vaksin kepada anaknya, walaupun langkah ini dinilai terlalu berlebihan dan melanggar kebebasan individu, kebanyakan orangtua di Israel setuju anaknya mendapatkan vaksin.

Penafsiran Islam

Qur’an dan tradisi Islam melarang penggunaan material khususnya hewan yang secara eksplisit haram (seperti babi dan yang dikategorikan haram), namun hewan yang halal pun dapat menjadi tidak halal, bergantung dengan bagaimana caranya mati.

Permasalahan ini direfleksikan dalam pengobatan sehubungan penggunaan gelatin dalam produk kesehatan. Jika gelatin dihasilkan oleh materi yang halal, maka diijinkan penggunaannya, atau jika seseorang tidak memiliki pilihan lain untuk pengobatan maka orang tersebut tidak dapat disalahkan jika menggunakan materi yang tidak halal, hal ini berdasarkan “hukum keterpaksaan,” vaksin penting untuk tujuan kehidupan, bukan untuk dinikmati sebagai makanan, oleh karena itu materi tidak halal dengan terpaksa diperbolehkan.

Prosedur awal imunisasi yang dinamakan variolasi (yang saat ini dilarang dan digantikan oleh vaksinasi) sudah dikenal luas pada masa kesultanan Ottoman. Umumnya tradisi Islam di dunia yang menerima vaksin berpendapat bahwa vaksin untuk melindungi hidup dan mencegah kehancuran (izalat aldharar) dan kepentingan umum (maslahat al ummah), vaksin melindungi, itulah kenapa hukum keterpaksaan harus dipertimbangkan. Untuk Indonesia sendiri MUI telah mengeluarkan fatwa (no.4 tahun 2016) sehubungan dengan penggunaan vaksin. Salah satu poin dalam putusannya MUI menegaskan bahwa:

“Imunisasi dengan vaksin yang haram dan/atau najis tidak dibolehkan kecuali: digunakan pada kondisi al-dlarurat atau al-hajat; belum ditemukan bahan vaksin yang halal dan suci; adanya keterangan tenaga medis yang kompeten dan dipercaya bahwa tidak ada vaksin yang halal.”

Pertimbangan Buddha

Untuk mencapai nirvana, setiap umat buddha harus sungguh-sungguh mematuhi delapan jalan kebenaran dan dasasila untuk membantu mencegah akumulasi karma apapun, didalam sila terdapat: menghindari pembunuhan, menghindari mencuri, menghindari perbuatan asusila, menghindari berbohong, menghindari minuman keras, dst. Sila pertama dalam Pali berbunyi panatipata veramani sikkhapadam samadiyami yang berarti “aku bertekad untuk menghindari diri dari pembunuhan mahluk hidup.” disini makna dari kata pana adalah semua mahluk hidup yang bernafas dan memiliki kesadaran.

Pemeluk agama Buddha modern umumnya menggunakan vaksin untuk menjaga kesehatan dirinya, namun menurut ajaran Buddha sejati, jika vaksin dihasilkan dari segala bentuk kehidupan (pana) maka penggunaannya menjadi perdebatan karena bertentangan dengan sila pertama dari dasasila. Namun pemeluk Buddha mula-mula tidak berurusan dengan pertanyaan semisal “apakah janin merupakan suatu bentuk kehidupan?,” pada dasarnya buddhisme melarang pengikutnya untuk melakukan tindakan menghancurkan terhadap segala sesuatu yang memiliki potensi hidup.

Sebaliknya, peneliti biomedis beragama Buddha yang melakukan pecobaan terhadap mahluk hidup meyakini tujuan dari penelitian biomedis adalah untuk penyelamatan, bukan untuk mengorbankan kehidupan. Sudut pandang pemeluk Buddha modern meyakini, sebagai contoh: penelitian yang didasari kecintaan terhadap mahluk hidup pada sampel yang didapat dari relawan tidak akan mengakumulasi karma yang buruk.

Penilaian Global

Terlepas dari agama, latar belakang politik dan geografis, penolakan vaksinasi diantara orangtua secara global jelas terlihat. Di beberapa negara sistem hukum menganjurkan bagaimana harus bersikap terhadap penolakan tersebut. Sebagai contoh, di Kroasia vaksinasi merupakan kewajiban, hukumnya jelas, namun sangat disayangkan pada prakteknya belum maksimal.

Banyak sekali publikasi yang berhubungan dengan keberatan pemeluk agama atas vaksinasi berdasarkan hak untuk kebebasan menjalankan agama. Bagaimanapun, agama juga dapat menyajikan sudut pandang yang tidak berhubungan dengan keagamaan yang jarang digunakan pada diskusi pada topik ini, seperti alasan solidaritas atau alasan medis yang mengakibatkan seseorang tidak boleh mendapatkan vaksin.

Meskipun artikel ini tidak mengulas semua agama, namun jelas bahwa mayoritas agama berlandaskan pada penghargaan terhadap nilai-nilai kehidupan, dan oleh karena itu wajar saja jika menunjukan sikap keberatan atas vaksin yang dihasikan dari janin, meskipun berasal dari relawan yang di aborsi, atau sebagaimana keberatan yang diajukan oleh sebagian pemeluk Buddha yang enggan menggunakan vaksin yang berasal dari mahluk hidup lain. Namun jika hanya vaksin ini yang dimiliki oleh generasi sekarang untuk melidungi diri, dan mengingat manfaatnya yang besar, sebagian besar agama memperbolehkan (disertai catatan). Agama tentu saja tidak bertentangan dengan vaksinasi dan kesehatan umum, tidak ada agama yang bertentangan dengan gagasan “mempertahankan kelangsungan kehidupan,” yang bertentangan dengan vaksinasi adalah individu.

Untuk mempertahankan vaksin dari interpretasi mencurigakan, kita harus membeberkan pada khalayak sudut pandang keagamaan yang gampang dipahami dan tidak perlu menghakimi (seperti mengecam bahwa kelompok tersebut kurang pendidikan, sikap ini justru memperlihatkan diri anda yang tidak memahami dengan jelas permasalahan sebenarnya) bagaimanapun kelompok anti-vaksin  jelas terlihat, mereka ada, mereka telah menentukan sikap, oleh karena itu langkah awal untuk mengatasi penolakan terhadap vaksin ini tentu saja dibutuhkan kerjasama, terutama dengan pemimpin agama, untuk mencegah situasi menjadi lebih parah, juga meningkatkan kampanye tanpa henti dengan komunikasi yang sesuai untuk menerangkan esensi penggunaan vaksin dari sudut pandang keagamaan.

One thought on “Apakah Vaksinasi Bertentangan Dengan Agama?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.