Presiden A.S
Budaya

Kebijakan Trump Mengakui Yerusalem Sebagai Ibukota Israel Merupakan Provokasi Mematikan

Bagi Donald Trump memicu kemarahan ras atau agama tertentu, khususnya Muslim adalah strategi politik, karena kemarahan tersebut akan membangkitkan aksi kekerasan dan menyebarkan ketakutan yang secara politik dapat dimanfaatkan olehnya, bahkan, jika memang benar-benar dibutuhkan, ia akan menciptakannya.

Pada masa kampanye presiden, Trump mengarang cerita mengenai Muslim di Jersey City yang merayakan peristiwa 9/11. February lalu, Trump kembali mengarang cerita serangan teroris di Swedia, dan minggu kemarin lagi-lagi Trump mengarang cerita mengenai serangan imigran Muslim kepada seorang anak  yang lumpuh. Melihat kebiasaan buruk ini, sebagaimana yang ditulis oleh abc, senator Bob Corker berungkali menyebut Trump sebagai pembohong yang “merendahkan martabat negara.”

Kemarin Trump melakukan hal yang lebih jauh dengan mengumumkan bahwa A.S mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel, kali ini ia tidak sekedar mengarang, ia telah memprovokasi.

Konsulat A.S di Yerusalem mengeluarkan peringatan kepada warga negara A.S untuk tidak mengunjungi kota tua Yerusalem dan West Bank. Meskipun kekerasan mungkin tidak segera terjadi namun Departemen Luar Negeri A.S memerintahkan kedutaannya untuk berjaga-jaga, keputusan Trump berpotensi besar menimbulkan kericuhan karena warga Palestina akan semakin tenggelam dalam keputusasaan dan dendam akibat pudarnya harapan untuk kondisi yang lebih baik.

Namun kenapa Trump memperkeruh suasana dan memperdalam penderitaan rakyat Palestina? melihat konteks, apakah ada ibukota negara Palestina di Yerusalem Timur? atau apakah ada usaha untuk membuatnya? mendeklarasikan kedaulatan Israel di Yerusalem Barat tidak akan terlalu memicu kekacauan, namun tidak seperti para pendahulunya, Trump tidak pernah mengatakan bahwa ia akan mendukung munculnya negara Palestina. selain itu, semenjak Trump berkuasa Netanyahu tidak pernah lagi berpura-pura mendukung berdirinya negara Palestina (sejujurnya ia memang tidak pernah mendukung), sementara kenyataannya sekitar 100.000 rakyat Palestina di Yerusalem Timur hidup dalam keterbatasan, terbelakang dan hak mereka diabaikan oleh Israel, yang akhirnya mempercepat pendudukan Yahudi di Yerusalem Timur. Mendirikan ibukota Palestina disana semakin lama semakin tidak memungkinkan.

Konteks inilah yang membuat warga Palestina di Yerusalem Timur dan West Bank meyakini bahwa Israel dan A.S berusaha melanggengkan penderitaan mereka, rasa frustasi ini akan cenderung berakhir pada kekerasan. Para pemimpin palestina berkewajiban untuk meredakan amarah masyarakat (yang sayangnya kurang mendapat liputan media), Presiden A.S juga memiliki tanggung jawab yang tak kalah penting agar tidak terjadi pertumpahan darah lebih banyak, para pendahulu Trump bahkan yang pro Israel sekalipun seperti George W. Bush paham sekali dengan hal ini, dan acapkali menunda kebijakan yang berhubungan dengan pemindahan ibukota Israel ke  Yerusalem, sayangnya Trump tidak.

Sebagaimana pernyataan pendek yang disampaikan oleh Trump di White House.

“Saya telah memutuskan, inilah saatnya secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibukota dari Israel, sementara presiden sebelumnya menjadikan hal ini sebagai janji utama pada kampanye, mereka gagal mewujudkannya, hari ini , saya yang mewujudkan” tegas Trump.

Kenapa tidak? ada beberapa analisa sehubungan dengan hal ini, pertama, tim inti untuk kebijakan Israel-Palestina pemerintahan Trump yaitu Jared Kushner, Jason Greenblatt, dam David Friedman kurang berpengalaman dan tidak memiliki kedekatan dengan dunia Arab. Kedua, Kondisi politik A.S sepertinya juga memainkan peranan penting, sebagaimana headline di harian New York Time “Bagi Trump, kedutaan di Yerusalem adalah keputusan politik, bukan diplomatik.”

Pada gala Zionist Organization of America bulan lalu, Steve Bannon, mantan consigliere (penasehat) Trump menekankan pengaruh dari donatur terbesar partai Republican yang sekaligus pendukung utama Israel, Sheldon Andelson-CEO Las Vegas Sands, perusahaan kasino terbesar di A.S.

Bannon menegaskan bahwa para petinggi partai Republican mengabaikan Trump Setelah rekaman Access Hollywood yang memperlihatkan sikap tidak senonoh Trump dirilis oleh Washington Post, namun Sheldon Andelson mendukung Trump. Sheldon Andelson membimbing dan memberikan nasehat bahkan menawarkan uang sebesar $20 juta untuk kampanye Trump lalu $5 juta lagi untuk pesta perdana, Sheldon Andelson juga yang selama ini terus mendesak pemindahan Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Konflik suku, ras dan agama sangat penting bagi Trump, ia membutuhkan kemarahan pendukungnya kepada warga keturunan Amerika Latin, Afrika-Amerika dan Muslim. Semakin berbahaya ancaman dari kelompok radikal (yang diakibatkan oleh provokasi Trump) semakin kuat dukungan terhadap Trump, dan jika tidak ada ancaman? tentu posisinya sendiri yang terancam, sebagaimana yang diketahui, belakangan dorongan pemakzulan terhadap Trump semakin kuat, oleh karena itu, jika memang harus menciptakan ancaman yang paling berbahaya sekalipun, akan ia laksanakan, sebagaimana kebijakan yang telah ia keluarkan dengan secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibukota dari Israel.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.