Formal Terapan

Linux Mendominasi Total Supercomputer

Linux merajai supercomputer. Dimulai dari pertama kali masuk ke daftar 500TOP supercomputer pada tahun 1998 hingga akhirnya hari ini, kesemua 500 supercomputer tercepat didunia menggunakan Linux. Supercomputer non-Linux terakhir, yaitu sepasang IBM POWER Cina yang menggunakan AIX tidak lagi dicantumkan dalam daftar TOP500 supercomputer tercepat didunia terhitung November ini.

Secara keseluruhan, Cina mendominasi kepemilikan supercomputer tercepat dengan jumlah total komputer 202, sedangkan A.S 144. Tidak hanya jumlah, Cina juga mengungguli A.S dalam performa agregat. Supercomputer Cina mewakili 35.4 persen dari TOP500 FLOPS (Floating point operations per second), sementara A.S harus puas dengan angka 29.6 persen dan kemungkinan akan terus menurun mengingat saat ini pemerintahan A.S dikuasai oleh rezim anti-sains.

Saat daftar TOP500 supercomputer pertama kali disusun pada tahun 1993, Linux masih dalam tahap awal pengembangan, bahkan saat itu belum menggunakan logo Tux seperti saat ini. Namun dengan dukungan dari pengembang diseluruh dunia tidak butuh waktu lama bagi Linux untuk bisa masuk ke daftar TOP500.

Pada tahun 1994, Goddard Space Flight Center milik NASA merancang supercomputer yang dinamakan Beowulf. supercomputer tradisional sangat mahal, oleh karena itu Donald Becker dan Thomas Sterling yang merupakan pengembang Beowulf membangun computer cluster yang yang terdiri dari 16 prosesor Intel 486 DX4.

Hingga saat ini, desain Beowulf tetap cara paling populer dan murah untuk merancang supercomputer. justru pada daftar TOP500 terbaru, 437 computer paling cepat didunia menggunakan desain cluster yang merupakan warisan dari Beowulf.

Unix merupakan sistem operasi yang awalnya digunakan oleh kebanyakan supercomputer, namun setelah Linux mulai berada dalam daftar TOP500 dengan berbagai pertimbangan banyak supercomputer yang beralih ke Linux hingga akhirnya pada tahun 2004 Linux berhasil memimpin.

“Linux menjadi kekuatan penggerak dibalik terobosan kekuatan komputasi yang telah menghidupi inovasi dalam penelitian dan teknologi” tulis Linux Foundation. Dengan kata lain, Linux mendominasi supercomputer, dan membantu para peneliti menembus batasan.

Ada dua alasan kenapa para peneliti memutuskan untuk beralih ke Linux, pertama, karena kebanyakan mesin riset supercomputer dibangun untuk tugas yang khusus, setiap mesin memiliki pekerjaan masing-masing dengan karakteristik yang unik dan kebutuhannya sendiri, tidak mungkin mengembangkan sistem operasi sendiri untuk masing-masing mesin, dengan Linux maka yang diperlukan hanyalah memodifikasi dan memaksimalkannya saja dan tentu saja akan sangat menghemat biaya pengembangan.

Sebagai contoh, kernel Linux 4.14 terbaru dapat menggunakan Heterogeneous Memory Management (HMM) yang memungkinkan GPU dan CPU mengakses sebuah address space bersama dari proses. Tepatnya, 102 supercomputer dari TOP500 saat ini menggunakan teknologi GPU akselerator, semuanya akan bekerja lebih lagi karena HMM.

Kedua, sama pentingnya, lisensi Linux memungkinkan peneliti mengembangkan node lebih banyak. Tidak peduli berapa node yang dimiliki, 10 node atau 20 node bahkan lebih, akan tetap sama. Berbeda dengan sistem operasi yang memiliki paten. Dengan Linux para peneliti akan mendapatkan bantuan dari berbagai komunitas Linux juga pengembang dan mengalokasikan dana ke hal lain yang tak kalah pentingnya.

Linux benar-benar telah merajai supercomputer dan akan membawa dunia ke arah revolusi perangkat keras seperti komputasi kuantum, nyatanya, memang sudah terjadi, para pengembang di IBM tengah mengerjakan sebuah proyek yang berusaha membawa Linux kepada komputer kuantum.

One thought on “Linux Mendominasi Total Supercomputer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.