Pongo abelii
Natural Terapan

Spesies Baru Orangutan Pongo Tapanuliensis Diambang Kepunahan

Para peneliti telah mengkonfirmasi bahwa orangutan yang ditemukan dihutan terpencil di Sumatra merupakan spesies baru. Sayangnya, spesies baru yang dinamakan Pongo tapanuliensis ini terancam punah dan hanya berjumlah kurang dari 800 ekor, pembangunan bendungan dan jalan memperparah ancaman terhadap habitat spesies baru ini.

Berdasarkan kombinasi data genetik, anatomi dan ekologi, Pongo tapanuliensis berbeda dengan dua spesies orangutan lain yang juga terancam punah, namun sepertinya keberadaan Pongo tapanuliensis sudah berstatus “Awas!” dan jika tidak ditindaklanjuti dengan usaha pelestarian yang serius maka generasi yang akan datang tidak akan berkesempatan melihat spesies baru ini secara nyata. Melihat hal ini wakil ketua konservasi internasional di Arlington, Virginia-Russell Mittermeier menyuarakan konservasi primata secara besar-besaran.

Hanya 15 ribu ekor orang Pongo Abelii (orangutan sumatra) yang tersisa. Selama ini yang menjadi ancaman bagi keberadaannya adalah penebangan liar, perkebunan sawit dan pengembangan lainnya. Untuk kalimantan sendiri populasi Pongo pygmaeus selama 10 tahun terakhir turun 25%, diperkirakan 3100 orangutan dibunuh tiap tahunnya, angka kematian yang sangat tinggi bagi hewan yang jarang bereproduksi. Orangutan sumatra hanya melahirkan 8-9 tahun sekali, lebih jarang dibandingkan mamalia manapun. “efek negatif apapun mengakibatkan dampak jangka panjang bagi populasi, karena itu sangat dibutuhkan kehati-hatian” ujar Vincent Nimant, seorang biologi dan antropologis dari Universitas Oxford Brookes di Inggris.

Kecurigaan bahwa populasi Batang Toru merupakan spesies yang berbeda muncul setelah Gabriella Frederiksson mengamati panganan primata setempat, mereka tidak hanya mengonsumsi ulat bulu namun makanan lain seperti buah cemara, dan sampel kotoran menunjukan DNA mitokondria mereka lebih dekat kepada orangutan yang berada di pulau Kalimantan. “Ini sangat aneh” ujar  Michael Krützen seorang genetisis evolusioner di Universitas Zurich. Namun tanpa penelitian terhadap tengkorak ilmuwan tidak memiliki bukti yang cukup untuk memisahkan spesies, lalu pada tahun 2013, warga membunuh seekor orangutan yang merusak kebun. Anehnya, setelah diamati tengkorak orangutan tersebut berbeda dengan dua spesies lain, perbedaan lain juga terlihat.

Dari foto dua Tapanuli jantan dan satu betina memperlihatkan mereka memiliki bulu yang lebih keriting, suara mereka juga memiliki pitch lebih tinggi. Analisis genomik mengonfirmasi keunikan dari populasi tersebut. Para peneliti lalu mengombinasikan data dan berkesimpulan bahwa 3.4 juta tahun lalu orangutan yang berada di utara Sumatra terpisah dengan orangutan yang saat ini berada di Borneo dan selatan Sumatra, hal ini disebabkan pemisahan pulau Sumatra dan Kalimantan dikarenakan perubahan permukaan laut. Lalu, sekitar 674 ribu tahun yang lalu, spesies pun terpisah.

Meskipun orangutan di Utara dan Selatan Sumatra acapkali melakukan perkawinan silang, sekitar 20 ribu tahun yang lalu orangutan Tapanuli terisolasi total, analisa genetik terbaru memperlihatkan perkawinan sejenis. Salah satu faktor pemisahan adalah letusan dahsyat dari gunung Toba di Sumatra Utara sekitar 73 ribu tahun lalu yang menghancurkan habitat. Manusia tiba pada saat yang bersamaan, membuka lahan dan diduga memburu orangutan.

Bulan Maret lalu, pemerintah provinsi membentuk otoritas yang berfokus pada ekosistem Batang Toru, langkah awal yang diambil adalah bekerjasama dengan penduduk lokal untuk mengurangi perburuan dan penebangan liar. Namun sepertinya spesies baru ini bukanlah hal yang istmewa bagi penduduk lokal, oleh karena itu para konsevasionis harus menemukan cara kreatif untuk melindungi hutan seperti mempromosikan pariwisata dan memperlihatkan manfaat lain dari hutan yang sehat untuk menjaga spesies orangutan terbaru didunia tetap ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *