Pixel Visual Core
Formal Terapan

Pixel Visual Core Pada Google Pixel 2 Merevolusi Kamera Smartphone

Pada masa keemasan fotografi film, nyaris semua fotografer memiliki merk roll film kesukaannya karena setiap film memiliki karakter gambar tersendiri. Para fotografer yang lebih  berpengalaman bahkan mampu membedakan roll film apa yang digunakan oleh sebuah foto hanya dengan melihat hasil jadinya saja, entah itu dari kontras, warna ataupun grain. Hal-hal seperti ini mulai hilang pada era fotografi digital.

Sebagaimana Apple yang sangat serius menangani teknologi fotografi, Google Pixel 2 juga melakukan usaha yang sungguh-sungguh dengan menggunakan algoritma unik dan prosesor gambar dedicated (tersendiri) untuk memberikan karakter khas pada hasil foto smartphonenya.

Kamera Pixel 2 dikembangkan oleh para insinyur yang sekaligus fotografer, dan mereka telah menentukan pilihan subyektif tentang bangaimana seharusnya foto smartphone seharusnya terlihat. Penekanan terletak pada warna yang cerah dan gambar yang tajam.

“Saya dapat dengan jelas mengenali sebuah gambar hasil jepretan pixel 2 hanya dengan melihatnya,” ujar Isaac Reynolds, manajer proyek imaging untuk tim Google Pixel 2.

Diatas kertas, spesifikasi kamera Pixel 2 nyaris tidak berbeda dengan kamera pocket, yang membedakan adalah software. Kamera pada smartphone sangat bergantung pada algoritma dan chipset, disitulah Google memusatkan perhatian dan mengerahkan tenaganya. Google memberikan sistem pada sebuah chip yang didedikasikan untuk pengolahan gambar dan learning processes yang dinamakan Pixel Visual Core kedalam Pixel 2.

Hal yang paling membuat pengguna kecanduan menggunakan kamera Pixel 2 adalah teknologi High Dynamic Range (HDR) terbaru, yang aktif pada 99.9 persen dari jepretan yang diambil. Sebenarnya foto HDR bukanlah hal yang baru bagi smartphone, namun versi Pixel 2 yang dinamakan HDR+ ternyata berbeda.

Setiapkali anda menekan shutter pada Pixel 2, kamera akan mengambil 10 foto. Jika anda sudah tidak asing dengan HDR, anda akan menyangka bahwa tiap foto yang diambil memiliki pencahayaan yang berbeda untuk meningkatkan detil pada area yang terang dan gelap. Ternyata tidak seperti itu, HDR+ mengambil foto dengan pencahayaan yang sama. Setiap foto akan terlihat sedikit gelap untuk mencegah cahaya yang berlebih, dan pencahayaan pada bayangan akan ditingkatkan untuk mempertegas detil. Algoritma machine learning akan mendeteksi noise pada foto lalu menghilangkannya.

Semua terjadi sangat cepat, dalam hitungan detik dan anda tidak perlu menyalakan HDR+, karena akan bekerja dengan sendirinya. Pada dasarnya Google meletakan komputer lain yang lebih kecil kedalam smartphone, secara spesifik menangani proses pengambilan gambar. Semua ini dibutuhkan mengingat keterbatasan hardware pada smartphone. “Kami sangat ingin meletakan sensor full-frame, akan tetapi sensor yang besar akan mengambil 40% ruang dalam ponsel” ujar Reynolds.

Google berencana untuk membuka platform bagi third-party, sehingga semua dapat mengambil keuntungan dari kekuatan ektra komputasi.

Pergerakan ke arah komputasi kamera yang dapat menghasilkan gambar diluar kemampuan kamera smartphone lain sepertinya semakin jadi, “Orang-orang berharap kamera smartphone mampu mengambil gambar sesuai dengan apa yang mata mereka saksikan,” ujar Reynolds. Anda sudah dapat menyaksikan efek dari komputasi fotografi pada hal seperti panorama, dimana foto-foto akan dirangkai untuk membuat sebuah foto yang lebih lebar.

Dengan kemampuan proses, para pengguna juga berharap kamera smartphone mampu meniru kamera sesungguhnya. Mode portrait yang mengaburkan benda lain disekitar subjek sudah umum sekarang, namun Google tidak menambahkan kamera spesifik untuk portrait, menurut Reynold pengguna dapat hasil yang diinginkan hanya dengan satu kamera.

Terakhir, saat ini kamera digunakan untuk berbagai tujuan, karenanya hardware harus merefleksikan kebutuhan itu. Google Lens memiliki kebutuhan untuk merekam dan mengenali objek dan aplikasi augmented reality juga menuntut hal yang serupa.

jadi, diatas kertas spesifikasi kamera tidak memiliki perbedaan namun foto yang dihasilkan berubah drastis. Seiring dengan pengembangan machine learning, tidak akan ada mesin yang dapat mengambil gambar sebaik manusia, namun mesin saat ini sekurangnya dapat menghasilkan yang secara subjektif dapat dianggap sebuah foto yang baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *