Bisnis

Google Akuisisi Bagian Bisnis HTC Seharga Rp 14 Triliun Lebih

Google mengumumkan bahwa mereka mengakuisisi bagian dari bisnis smartphone HTC dengan nilai $1,1 miliar, Apa yang sebenarnya Google inginkan dari akuisisi ini?

Google tidak membeli HTC secara keseluruhan, hanya bagian yang relatif besar dari perusahaan smartphone yang berbasis di Taipei ini, dari akuisis ini Google mendapatkan setengah dari tim research and development yang berjumlah sekitar 2000 orang dan lisensi non-eksklusif untuk kekayaan intelektual HTC, memungkinkannya untuk memanfaatkan kemajuan HTC dalam teknologi smartphone.

HTC mendapat suntikan dana, yang membantunya tetap bertahan dibeberapa pasar yang sangat kompetitif, dan Google melanjutkan “Taruhan besar pada hardware,” menurut Rick Osterloh, senior vice president hardware di HTC.

Ini merupakan “Keputusan bisnis untuk mendapatkan akses ke salah satu tim R&D terbaik” ujar Neil Shah, direktur riset di Counterpoint Technology Market Research. Tapi ini juga “Semacam keputusan emosional untuk menyelamatkan mitra dekatnya.”

Meskipun membuat sistem operasi Android yang hingga saat ini digunakan oleh lebih dari 2 miliar perangkat (89% dari perangkat mobile yang ada) Google tidak pernah terlalu serius membuat perangkat sendiri. Selama ini Google bermitra dengan perusahaan seperti HTC, LG dan Huawei untuk membuat seri perangkat Nexus, itupun dijual dengan volume rendah atau digunakan sebagai peraga jika versi terbaru Android dikeluarkan.

Google membeli Motorola di tahun 2011 seharga $12,5 miliar, menjalankannya sebagai perusahaan terpisah yang menjual smartphone low-end hanya untuk memiliki paten penting dalam jumlah besar.

“Alasan utamanya adalah untuk melindungi portfolio paten Moto sehingga dapat melindungi Apple (dan Microsoft) sambil terus bersaing ketat dengan Samsung (Meskipun Google tidak akan mengakui hal ini)” Ujar David McQueen, direktur riset ABI Research.

Google menjual Motorola ke Lenovo China pada tahun 2014 dengan harga $2.9 miliar tanpa paten.

Pada tahun 2013 barulah Hardware merk asli Google hadir dalam bentuk Google Chromebook Pixel yang dibuat dalam jumlah besar dan dianggap layak untuk dijual. Google juga meluncurkan Chromecast streaming stick, yang merupakan perangkat paling sukses dalam penjualan Google, lebih dari 30 juta unit laku dipasaran.

Google merevisi Chromebook Pixel pada tahun 2015, namun baru tahun berikutnya membuat smartphone Android sendiri, yaitu Pixel dan Pixel XL. Keduanya adalah smartphone premium yang diproduksi oleh HTC, tanpa sedikitpun ada embel-embel HTC pada produk atau kemasannya.

Pixel merupakan representasi dari ambisi Google untuk menandingi Apple, tantangan untuk berkompetisi secara langsung daripada terus menerus melakukan perang proxy dengan menggunakan Android dan berbagai produsen pihak ketiga.

Kesepakatan Google dengan HTC sebenarnya adalah membeli para ahli yang membuat smartphone Pixel tahun lalu, membawa mereka untuk bertanggung jawab penuh melakukan apa yang Google inginkan.

Thomas Husson, wakil presiden dan analis utama Forrester mengatakan “Dua minggu sebelum mengumumkan smartphone Pixel baru dan perangkat keras lainnya, akuisisi HTC menggambarkan komitmen Google terhadap ruang perangkat-konsumen. Rilis resmi produk baru pada 4 oktober cenderung menunjukkan bahwa akhirnya Google serius dalam mengembangkan ekosistem perangkat yang dikontrol secara ketat.”

Persentase pemilik smartphone di negara maju mendekati titik jenuh, sementara perbedaan antar perangkat mulai berkurang , para pemain smartphone berfokus pada layanan yang diberikan oleh smartphone daripada smartphone itu sendiri.

Bagi Google, ini adalah layanan web dan aplikasinya, mulai dari Gmail, Google Play hingga Google Assistant, menjaga banyak orang tetap dalam ekosistem Google. Semakin banyak waktu yang dihabiskan pengguna bersama produk Google, semakin banyak informasi yang dapat dikumpulkannya dan makin banyak kontak potensial yang bisa ia gunakan untuk menjual iklan.

Inilah asal-mula Android dikembangkan, karena Google melihat mobile sebagai evolusi berikutnya dan menginginkan layanannya berada didunia smartphone yang baru. Ini juga alasan Google membayar Apple $3 miliar setahun, untuk menjadikan layanan pencarian Google sebagai default search engine di iPhone.

Karena layanan semakin penting, produsen Android pihak ketiga termasuk yang terbesar dari semua-Samsung, mulai mengembangkan layanan mereka sendiri. Contohnya Bixby, jelas merupakan upaya samsung untuk menyaingi Google Assistant, sementara HTC dan yang lain mulai mengintegrasikan Alexa Amazon.

Uni Eropa juga saat ini berupaya menyelidiki Google karena dianggap menerapkan sistem anti persaingan, yang kemungkinan memaksa Google untuk berhenti memasang Google search pada perangkat Android pihak ketiga. Dihadapkan dengan perubahan, dimana Android tidak lagi efektif sebagai sistem yang mengirimkan layanan Google, maka keputusan untuk memproduksi hardware sendiri merupakan langkah yang masuk akal.

Dengan smartphone Pixel, Google memiliki kesempatan untuk menyetir perangkat yang semua berisi layanan Google. Seperti yang telah dibuktikan Apple melalui iPhone, saat produsen benar-benar mengendalikan semua hardware dan software, produsen dapat melakukan banyak hal nyaris tanpa batasan dengan ekosistem layanan dan perangkat.

Meskipun Android merupakan jerih payah Google, namun pertarungan di pasar smartphone tidak dengan serta-merta menjadi gampang karena Samsung telah mendominasi pasar global sebanyak 21%, berikutnya apple di posisi kedua dengan 15%, sementara Huawei menempati urutan ketiga dengan pangsa pasar 9% dan terus meningkat.

Evolusi berikutnya dari teknologi kecerdasan adalah asisten suara, sebagian besar smartphone telah dilengkapi dengannya, mulai dari Siri hinga Alexa. Agar dapat bersaing dengan Amazon pada teknologi ini Google membutuhkan perangkat keras. Speaker cerdas Google Home adalah langkah awal yang penting dan diharapkan dapat bergabung dengan perangkat serupa yang lebih kecil pada 4 oktober nanti.

Entah itu speaker, smartphone, atau notebook, kompetisi yang semakin berat membuat Google membutuhkan integrasi yang lebih baik antara hardware dan software jika ingin layanannya terus berkembang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.