Sains

Persekusi Adalah Produk “Panik Moral”

Konsep kriminologis yang disebut Panik Moral (Moral Panic) memberikan wawasan mengenai mengapa dan bagaimana para agen sosial seperti media pemberitaan dengan sengaja membuat kekhawatiran publik.

Kamus Oxford memberikan definisi Panik Moral:

“Salah satu contoh ketakutan atau peringatan publik sebagai tanggapan atas masalah yang dianggap mengancam standar moral masyarakat “

Sedangkan Kamus Sosiologi menuliskan:

“Proses membangkitkan kepedulian sosial atas sebuah isu – biasanya karya wirausaha moral dan media massa”

Menyederhanakan definisi dari kedua kamus tersebut, kita bisa mengatakan Panik Moral adalah penyebaran rasa takut dalam suatu kelompok besar bahwa sesuatu sedang mengancam ketentraman masyarakat. Konsep Panik Moral dikembangkan dan dipopulerkan oleh kriminologis Afrika Selatan yang bernama Stanley Cohen. Konsep ini digunakan Cohen untuk menjelaskan reaksi publik Brighton, Ingris-atas peristiwa kekerasan yang dilakukan oleh kelompok  pemuda yang dikenal dengan “mods and rockers,” Cohen berargumen bahwa media Inggris mengubah sub-kultur mod menjadi simbol dari kenakalan yang negatif dan menyimpang.

Sejak semula, konsep Panik Moral telah diaplikasikan untuk menganalisa permasalahan sosial termasuk geng, kekerasan di sekolah, pencabulan anak, imigran ilegal dan terorisme.

Inti dari konsep Panik Moral adalah argumen bahwasanya kekhawatiran atau ketakutan publik atas sesuatu yang dianggap sebagai permasalahan sosial memberikan keuntungan mutualisme kepada oknum politisi, aparat penegak hukum dan media pemberitaan. Hubungan antara oknum dan media adalah simbiosis, dimana oknum politisi dan aparat penegak hukum membutuhkan saluran komunikasi untuk mendistribusikan retorika mereka dan media membutuhkan muatan berita yang berbobot untuk menyedot pemirsa yang pada akhirnya menarik pemasang iklan.

Panik Moral menyembul saat kampanye media massa yang memuat kepentingan oknum, digunakan untuk menciptakan ketakutan, mengokohkan stereotip dan mempertajam jurang pemisah antara perbedaan yang tak terelakan seperti suku, ras dan agama.

Sebagai tambahan, Panik Moral memiliki 3 karakteristik yang memisahkan, yaitu:

  • Adanya perhatian yang berfokus pada prilaku, entah itu nyata atau rekaan saja, terhadap individu maupun kelompok yang bertransformasi menjadi apa yang disebut Cohen sebagai “folk devils (setan-setan masyarakat)” oleh media masa. Hal ini terlaksana saat media mengupas habis karakteristik folk devils dan mengajukan hal negatif.
  • Ada celah antara kekhawatiran atas suatu kondisi dan ancaman obyektif yang ditimbulkannya.
  • Ada fluktuasi besar dari waktu ke waktu dalam tingkat keprihatinan atas suatu keadaan.

Akhirnya, histeria publik atas permasalahan yang dirasakan seringkali berujung pada persekusi, penganiayaan aktual dan verbal, lolosnya aturan hukum yang keras, yang sebenarnya tidak perlu, dan semata-mata berfungsi untuk membenarkan agenda oknum yang tengah/ingin memiliki kekuasaan.

Panik Moral merupakan respon publik dan politik terhadap kelompok yang dianggap membahayakan. Lebih spesifik lagi, panik moral mencakup pelampiasan peristiwa tertentu seperti jumlah individu yang terlibat, tingkat kekerasan dan jumlah kerusakan.

Jelas, ini bukanlah tindakan spontan, tapi cenderung sebuah hasil dari permainan dinamis dan kompleks antar beberapa aktor sosial. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Cohen, sekurangnya 5 perangkat aktor sosial terlibat dalam sebuah Panik Moral.

  1. folk devils (setan masyarakat)
  2. rule or law enforce (penegak hukum)
  3. the media (media pemberitaan/sosial media)
  4. politician (politisi)
  5. public (masyarakat)

Folk Devils

Dalam kamus pengamat Panik Moral, folk devils adalah individu-individu yang secara sosial didefinisikan atau dianggap memberikan ancaman kepada masyarakat, sama sekali tidak memiliki kebaikan. Jika Panik Moral adalah judul sebuah drama maka folk devils adalah perpaduan antara tokoh antagonis dan setan, sangat jahat.

Rule or Law Enforce

Aparat penegak hukum seperti polisi dan tentara sangat vital bagi sebuah Panik Morak karena mereka bertugas menegakan serta memberlakukan kode etik dan undang-undang sebuah negara. Para aparat negara ini diharapkan untuk mendeteksi, menangkap dan menghukum folk devils. Sebuah Panik Moral memberikan legitimasi kepada aparat penegak hukum untuk menyingkirkan folk devils yang dianggap mengancam masyarakat.

The Media

Adalah perangkat yang sangat kuat dalam menciptakan Panik Moral, liputan berita membuat folk devils terlihat sangat berbahaya dari yang sebenarnya, kekhawatiran dan kegelisahan publik memuncak oleh hiperbola jurnalistik yang akhirnya menciptakan Panik Moral.

Lebih lanjut, ada dua praktek penting dalam media pemberitaan yang berkontribusi dalam Panik Moral yaitu framing dan priming. Framing merujuk pada cara sebuah isu ditampilkan kepada publik atau sudut pandang media. Framing termasuk menekankan perhatian pada aspek tertentu dari sebuah isu dan mengabaikan atau membuang elemen lain. Framing memberikan pemaknaan pada suatu isu. Sebaliknya, priming merupakan proses psikologi dimana media menyediakan konteks untuk diskusi publik terhadap suatu isu.

Politicians

Sebagai pejabat terpilih, politisi harus tampil sebagai pelindung moral dalam masyarakat. Oknum Politisi sering menyulut Panik Moral dengan jalan bekerjasama dengan oknum lainnya seperti aparat penegak hukum dan media melawan setan-setan masyarakat (folk devils) dalam sebuah perang suci.

Public

Publik berperan penting dalam menciptakan sebuah Panik Moral, pergolakan dan kekhawatiran publik atas kehadiran folk devils adalah elemen inti dari Panik Moral. Adanya Panik Moral dikarenakan teriakan masyakat yang merasa terancam oleh kehadiran folk devils (yang barangkali tidak tidak ada.)

Apakah baru-baru ini anda merasa melihat fenomena sosial yang disebut Panik Moral? Jika iya, berikan komentar, saya akan senang berdiskusi dengan anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.