Nagasaki Peace Park
Natural Sosial

Bom Hidrogen VS Bom Atom Hiroshima dan Nagasaki

Korea Utara mengklaim telah melakukan ujicoba bom hidrogen, yaitu bom yang memiliki kekuatan lebih dahsyat daripada bom atom yang pernah meluluh lantakan Hiroshima dan Nagasaki pada perang dunia II tahun 1945.

Para ahli meragukan negara yang sangat tertutup dengan dunia luar itu benar-benar mengembangkan H-bom, ini dikarenakan gangguan seismik yang diakibatkan oleh ujicoba bom adalah sebesar 5.1, dan itu sama besarnya dengan ujicoba nuklir yang dilakukan oleh Korea Utara pada tahun 2013. (bom atom dan bom hidrogen merupakan jenis bom nuklir yang berbeda). Bom hidrogen, atau bom termonuklir merupakan bom yang jauh lebih kuat dibandingkan bom atom atau bom fission. Jadi peristiwa seismik yang serupa menandakan klaim Korea Utara hanya bualan belaka, ujar para ahli.

Perbedaan antara bom termonuklir dan bom fission dimulai dari tingkat atom. Bom fission seperti yang digunakan di Hiroshima dan Nagasaki bekerja dengan memisahkan nucleus (inti) atom. Saat neutron atau partikel netral dari nucleus atom terbelah, beberapa partikel menabrak nucleus atom terdekat, sehingga atom yang tertabrak ikut memisahkan partikel neutronnya, hasilnya adalah rentetan yang sangat eksplosif. Bom yang jatuh di Hiroshima (The Little Boy) dan Nagasaki (The fatman) meledak dengan kekuatan 15 kiloton dan 20 kiloton TNT.

Percobaan pertama senjata termonuklir atau bom hidrogen di A.S pada November 1952 menghasilkan daya ledak kurang lebih sebesar 10.000 kiloton TNT. Bom termonuklir dimulai dengan reaksi fission yang sama dengan bom atom, akan tetapi kebanyakan uranium dan plutonium pada bom atom sebenarnya terbuang sia-sia. Pada bom termonuklir, lebih banyak daya ledak yang tersedia.

Pertama, ledakan penyulut melakukan tekanan pada permukaan dari plutonium-239, material yang nantinya akan mengalami pembelahan, didalam lubang plutonium-239 ini adalah ruang gas hidrogen, temperatur tinggi dan tekanan yang dihasilkan oleh fission plutonium-239 mengakibatkan atom hidrogen melebur. Proses peleburan ini melepaskan neutron, yang memberi umpan balik ke plutonium-239, memecah lebih banyak atom dan meningkatkan reaksi rantai fission.

Pemerintah diseluruh dunia menggunakan sistem pemantauan global untuk mendeteksi uji coba nuklir sebagai bagian dari upaya untuk menerapkan CTBT (Comprehensive Test Ban Treaty) 1996. Ada 183 negara yang menandatangani perjanjian ini, akan tetapi perjanjian ini tidak bersifat memaksa karena negara-negara kunci termasuk A.S tidak meratifiksinya. Sejak 1996 Pakistan, India dan Korea Utara telah melakukan ujicoba nuklir Bagaimanapun juga, perjanjian tersebut menempatkan sistem pemantauan seismik yang dapat membedakan ledakan nuklir dengan gempa. Sistem pemantauan CTBT juga mencakup stasiun yang mendeteksi suara infrasonik. delapan stasiun pemantauan radionuclide diseluruh dunia mengukur partikel radioaktif di atmosfir, yang dapat membuktikan bahwa ledakan yang terdeteksi oleh sistem pemantau lain merupakan ledakan nuklir.