telegram
Sosial

Indonesia Harus Memblokir Telegram Ini Sebabnya

Intelejen dan pengamat teroris sudah lama mengetahui bahwa Telegram merupakan aplikasi kesukaan para penyebar teror khususnya Daesh (ISIS). Pada serangan Paris di tahun 2015, pelaku menggunakan Telegram untuk menyebarkan propaganda, juga pada serangan di Berlin tahun kemarin, Daesh menggunakan aplikasi pesan terinskripsi tersebut untuk merekrut para penjahat. Baru – baru ini, seorang jaksa Turki mendapati penembak keji serangan Istanbul pada malam tahun baru menggunakan Telegram untuk menerima instruksi dari seorang pemimpin Daesh di Raqqa.

Bulan lalu, Pavel Durov-CEO dan founder Telegram yang berkebangsaan Rusia setuju untuk bekerjasama dengan pemerintah Rusia setelah negara yang dipimpin oleh Putin tersebut mengancam akan memblokir Telegram. Beberapa hari sebelumnya, agen keamanan Rusia FSB mengatakan mereka memiliki bukti yang lebih dari cukup bahwa teroris menggunakan Telegram pada serangan St.Petersburgh yang membunuh 15 orang.

Namun Durov menekankan, meskipun telah bekerjasama dengan pemerintah Rusia, Telegram hanya mau memberikan informasi dasar dan tidak akan memberikan data-data rahasia para pengguna, hal ini dikarenakan kerahasiaan bukan hanya fitur, akan tetapi “Barang dagangan.”

Telegram resmi beroperasi pada tahun 2013 dan memberikan janji untuk menjaga kerahasiaan sekitar 100 juta pengguna aktif bulanannya dengan memberikan fitur seperti end-to-end encryption, chatroom rahasia, dan penghancur pesan.

Dibandingkan aplikasi sejenis yang lain, Telegram tidak membutuhkan prosedur yang rumit untuk mendaftar. Pengguna hanya perlu menyediakan kartu SIM untuk menerima kode akses, setelah proses pendaftaran berhasil, pengguna bebas untuk menggunakan kartu SIM lain, yang membuat pengguna tidak akan pernah dikenali.

Todd Helmus, seorang pengamat teroris di media sosial mengatakan bahwa sekitar dua tahun yang lalu platform media sosial yang digunakan oleh Daesh adalah Twitter, bukan Telegram. Namun Twitter, bersama platform lain seperti Facebook dan Instagram memaksa Daesh keluar dari aplikasi mereka dengan membasmi akun yang berhubungan dengan teroris. Twitter mengkonfirmasi bahwa mereka telah menutup lebih dari sekitar 350 ribu akun yang berhubungan dengan teroris.

Menurut para ahli, meskipun Telegram langsung menutup sekitar 78 channel yang berhubungan dengan Daesh setelah serangan Paris, dan menyusul ratusan channel lain, namun usaha Telegram tidak sebanding dengan platform lain, hal inilah yang menggiring para teroris untuk menggunakan Telegram.

Indonesia sendiri terhitung Jum’at (14/07) resmi memblokir Telegram. Dalam keterangan resmi menkominfo meminta kepada para penyedia layanan internet (ISP) untuk memblokir beberapa domain milik telegram. Meskipun menuai polemik di masyarakat, namun langkah pemerintah ini dirasa sangat tepat untuk menyikapi penyedia layanan yang tidak mau berkompromi dengan kebijakan lokal, kerahasiaan bertujuan untuk keamanan, buat apa kerahasiaan jika mengganggu kemanan?