Lost
Natural Sosial

Kalimat “Sabu Tidak Menyebabkan Ketergantungan” Menyesatkan

Baru-baru ini kepolisian Republik Indonesia berhasil menggagalkan penyelundupan 1 ton sabu dari Cina yang diperkirakan bernilai total Rp. 1,5 triliun. Bagi para penyelundup Indonesia merupakan pasar yang potensial dan Zat penstimulasi sistem saraf turunan dari amphetamine inipun kian populer di Indonesia pasca tren opioid drug fentanyl (China white atau putaw), kenapa? apakah karena premise yang dihembuskan oleh para bandar sabu bahwa zat metamphetamine ini tidak mengakibatkan ketergantungan, overdosis atau efek jangka panjang sehingga banyak yang berminat menggunakannya?

Untuk mengetahui seberapa berbahaya sabu harus melihat balik bagaimana sejarah zat Metamphetamine ini ditemukan.

Mulanya ilmuwan mengembangkan stimulan tipe amphetamine sebagai alternatif untuk tanaman ephedra-tanaman yang telah lebih dari 5000 tahun digunakan untuk ramuan obat tradisional Cina. Seorang ahli kimia dari Romania bernama Lazar Edeleanu yang pertama kali mensintetikan amphetamine di Universitas Berlin pada tahun 1887, dan semakin dikenal dalam dunia medis setelah disintetik ulang oleh Gordon A. Alles untuk menangani penyakit asma, alergi dan demam pada tahun 1920.

Varian amphetamine yaitu methamphetamine pertama kali disintetikan oleh Nagayoshi Nagai di Jepang pada tahun 1893, dan seorang ahli kimia Jepang lainnya bernama Akira Ogata yang menyederhanakan proses pembuatan menggunakan fosfor dan yodium untuk menjadikan efedrin kedalam bentuk kristal, melahirkan methamphetamine kristal pertama didunia yang kita kenal dengan nama sabu.

Awal mula penyalahgunaan methamphetamine dimulai pada perang dunia II, dimana pemerintah Jerman, Ingris, Amerika dan Jepang memberikannya kepada para tentara mereka untuk meningkatkan ketahanan, kewaspadaan dan penangkal lelah. Selain untuk militer, pekerja pabrik di Jepang masa itu juga mengkonsumsi methamphetamine agar dapat bekerja lebih lama.

Methamphetamine memiliki berbagai wujud, mulai dari methaphetamine hydrochloride yang dipasarkan dengan nama Desoxyn untuk penderita ADHD dan obesitas hingga Adderall dan Ritalin. Bentuk methamphetamine ilegal biasanya berupa bubuk putih yang biasanya dihirup atau dilarutkan dalam air. Methamphetamine kristal adalah bentuk kristal padat yang terlihat seperti pecahan beling.

Menghirup Methamphetamine kristal atau sabu (menggunakan bong) melalui mulut atau hidung sangat cepat mencemari otak, mengakibatkan sabu menjadi salah satu bentuk metamphetamine paling merusak dan adiktif daripada bentuk lainnya. Penggunaan sabu kronis akan mengakibatkan ketergantungan, lama kelamaan otak akan beradaptasi sehingga pengguna membutuhkan dosis yang lebih tinggi untuk memenuhi kebutuhan.

Penggunaan jangka panjang apalagi kecanduan sabu akan mengakibatkan kerusakan permanen pada otak sehingga pengguna akan paranoid, berhalusinasi atau delusi. Banyak pengguna sabu memiliki gigi yang busuk dan berat badan berkurang drastis.

Pada tahun 2006 UNWDR (United Nation World Drug Report) menyebut sabu sebagai zat keras yang paling banyak disalahgunakan di dunia,  Amerika sendiri pada tahun 2012 memperkirakan sekitar 1.2 juta warganya mengonsumsi sabu.

Kalimat yang sering terdengar bahwa “Sabu tidak mengakibatkan ketergantungan” merupakan panggilan halus untuk masuk ke gerbang penyalahgunaan obat-obatan terlarang oleh pengguna yang sudah tercemar otaknya dan tidak dapat dipercaya, sabu dapat mengakibatkan ketergantungan meskipun tidak memperlihatkan gejala ketergantungan langsung seperti pengguna opioid.

Overdosis sabu dapat menghentikan detak jantung seketika yang mengakibatkan kematian, juga merusak organ vital tubuh secara permanen dan menimbulkan efek jangka panjang seperti koma, gangguan kejiwaan serius, sesak nafas, gagal ginjal, stroke, dan berbagai penyakit akut.